EDUKASI PENINGKATAN KUALITAS KESEHATAN LINGKUNGAN SEBAGAI BENTUK PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT SKABIES PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR’AN DEWAN DA’WAH LAMPUNG
Main Article Content
Abstract
Penyakit skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit Sarcoptes scabiei. Perilaku dan lingkungan yang tidak sehat dapat menyebabkan penularan penyakit yang diakibatkan oleh lingkungan, seperti penyakit kulit skabies. Salah satu tempat yang sering terjadi penularan penyakit skabies adalah pondok pesantren. Untuk meminimalkan penularan skabies maka santri perlu mengetahui tentang personal hygiene dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Upaya meningkatkan PHBS Pesantren sangat penting demi terciptanya para santri yang sehat. Hal ini disebabkan kesehatan juga menjadi faktor penting agar para santri dapat belajar dan memahami ilmu di pesantren dengan lancar. Tujuan dilakukan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran para santri mengenai pentingnya personal hygiene dan PHBS di lingkungan pesantren untuk mencegah penularan penyakit skabies. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah ceramah dan praktik mengenai PHBS dan personal hyigiene. Peran mitra dikegiatan ini adalah menyediakan tempat yaitu Pondok Pesantren Dewan Da’Wah Lampung dan peserta untuk pelaksanaan pengabdian. Sasaran dalam kegiatan pengabdian ini adalah santri yang berada di kelas VIII. Santri yang mengikuti pengabdian ini nantinya akan diberikan Booklet BuS PerGi (Buku Saku Personal Hygiene) dan Poster edukatif mengenai PHBS yang diharapkan menjadi pengingat bagi para santri Ketika membaca dan melihatnya. Dengan meningkatnya kesadaran mengenai Kesehatan Lingkungan melalui Gerakan PHBS dan Personal Hygiene diharapkan nantinya tidak ada lagi santri yang tertular penyakit skabies. Hasil dari Kegiatan PkM ini menunjukkan rata-rata nilai pengetahuan santri sebelum dilakukan penyuluhan dan pelatihan sebesar 50,16±18,21. Hal ini mengindikasikan bahwa pengetahuan awal peserta cukup baik, namun masih memerlukan penguatan. Setelah melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan, nilai post-test meningkat menjadi 65,74±15,17, dengan kenaikan rata-rata pengetahuan sebesar 15,58±15,86. Hasil analisis statistik menggunakan Uji Paired Sample t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata yang signifikan (p<0.05) antara pengetahuan santri sebelum dan setelah diberikan penyuluhan dan pelatihan mengenai penyakit skabies. Berdasarkan Hasil ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan penyuluhan dan pelatihan berhasil meningkatkan pengetahuan para santri PPTQ Dewan Da’Wah Lampung terhadap penyakit skabies pada santri.